
Hari Anak 2025 di Metro: Digital Parenting Jadi Kunci Cegah Dampak Negatif Teknologi
Kota- Metro || Dalam suasana meriah Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-41, Wali Kota Metro, H. Bambang Iman Santoso, tampil mengajak orang tua untuk lebih sigap dan peka dalam menghadapi tantangan besar era digital. Lebih dari sekadar perkembangan teknologi, menurut Wali Kota, era digital telah menjerat anak-anak dengan potensi bahaya

serius — mulai dari kecanduan game, perjudian daring, hingga paparan konten kekerasan dan pornografi yang mengikis nilai-nilai moral serta psikologis mereka secara perlahan
“Ini bukan isu kecil. Ini ancaman sistemik. Anak-anak kita sejak dini telah terpapar dunia digital tanpa pendampingan cukup. Akibatnya, nilai moral, psikologis, dan sosial mereka tergerus,” tegasnya
Belajar dari Alam: Outdoor Classroom Day Jadi Sensasi Perayaan
Melangkah dari layar ke lapangan, Metro menyulap perayaan HAN menjadi Outdoor Classroom Day (OCD), ajakan untuk menghidupkan interaksi langsung dengan alam, seni, dan budaya lokal. Anak-anak dari jenjang TK hingga SMA diajak mengikuti serangkaian kegiatan kreatif: market day, senam bersama, panggung seni budaya, hingga program Pagi Bahagia yang menyelaraskan dengan “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”

Melalui pendekatan ini, Wali Kota menegaskan, “Kami ingin menegaskan kembali pentingnya ruang tumbuh yang sehat—seluruhnya, baik fisik, mental, maupun sosial. Dunia maya tak bisa menggantikan pengalaman nyata yang memupuk karakter”
Dengan tema nasional “Anak Hebat, Indonesia Kuat, Menuju Indonesia Emas 2045”, perayaan HAN di Metro bergerak sebagai panggilan moral. Semua lapisan masyarakat diajak bersatu memperkuat kepekaan atas tumbuh kembang anak di tengah arus digitalisasi yang kian deras.
Senada dengan pesan Wali Kota, Kepala Dinas DP3AP2KB Subehi menyoroti bahwa peringatan ini menjadi momentum penting untuk mengevaluasi pemenuhan hak dan perlindungan anak dalam konteks zaman yang kompleks.
Mengapa Ini Penting?
Perayaan HAN tahun ini bukan sekadar seremonial. Ia adalah seruan kuat bagi para orang tua, pendidik, dan masyarakat luas untuk kembali memastikan anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang aman, kaya pengalaman nyata, dan berimbang—jauh dari jebakan teknologi tanpa navigasi.
OCD memberikan bumbu kreativitas yang menghidupkan kembali interaksi sosial serta memperkuat identitas budaya. Inisiatif seperti ini menjadi fondasi karakter anak, sebagai tameng alami melawan kerentanan digital.